Keuangan & Margin8 menit baca

Berkas

Kenapa Invoice Forwarder Baru Cair 60 Hari: Padahal Terminnya 30

Termin 30 hari yang jadi 60 jarang disebabkan customer nakal. Umumnya ada 20–30 hari yang habis sebelum invoice sempat diterbitkan, dan periode itu tidak muncul di laporan umur piutang mana pun, karena secara teknis piutangnya belum ada.

Poin Utama

  • Umur piutang dihitung dari tanggal invoice, sehingga seluruh keterlambatan sebelum invoice terbit tidak terlihat di laporan.
  • Ukur DSO dari tanggal job selesai, bukan tanggal invoice, untuk melihat angka yang sebenarnya.
  • Penyebab terbesar biasanya biaya vendor yang tagihannya baru datang belakangan, bukan proses internal Anda.
  • Menagih sebagian lebih awal hampir selalu lebih baik daripada menunggu satu invoice lengkap yang sempurna.

Ada percakapan yang berulang di hampir setiap perusahaan forwarding. Direktur bertanya kenapa kas seret padahal omzet naik. Finance menjawab bahwa customer bayarnya lama. Sales membela diri karena terminnya memang 30 hari dan customer-nya patuh. Ketiganya benar, dan justru itu yang membuat masalahnya sulit diperbaiki.

Sebabnya, laporan umur piutang menghitung usia dari tanggal invoice. Kalau job selesai 5 Januari dan invoice baru terbit 27 Januari, laporan Anda menyebut piutang itu berumur nol hari pada 27 Januari. Dua puluh dua hari pertama menguap dari pandangan. Bukan karena ada yang menyembunyikan, tapi karena secara akuntansi piutang itu memang belum ada.

Dasar: siklus konversi kas, dan bagian yang tidak terlihat di laporan piutang

Dalam manajemen keuangan, siklus konversi kas mengukur berapa lama uang perusahaan terkunci sejak dikeluarkan sampai kembali tertagih. Salah satu komponennya adalah days sales outstanding, yang dihitung sejak tanggal invoice.

Di sinilah masalahnya untuk perusahaan logistik. Peristiwa yang mengunci uang Anda bukan penerbitan invoice, melainkan pelaksanaan jasa, dan keduanya bisa berjarak berminggu minggu. Karena rumus bakunya mulai menghitung dari tanggal invoice, seluruh jeda sebelum invoice terbit berada di luar pengukuran. Ia tidak muncul di laporan umur piutang bukan karena disembunyikan, tetapi karena secara akuntansi piutangnya memang belum lahir.

Jeda 1: menunggu biaya vendor yang belum lengkap

Ini penyebab terbesar, dan ironisnya paling sedikit dibicarakan. Sebuah job forwarding melibatkan banyak pihak: trucking, gudang, EMKL, agen di pelabuhan tujuan, kadang PPJK. Setiap pihak menerbitkan tagihannya sendiri, dengan ritme masing-masing.

Anda tidak bisa menerbitkan invoice final sebelum tahu total biaya, karena sebagian komponen ditagihkan ulang ke customer secara at-cost. Jadi Anda menunggu. Vendor trucking menagih H+3. Gudang menagih mingguan. Agen luar negeri menagih ketika sempat. Satu vendor yang lambat menahan seluruh invoice.

Yang membuat ini sulit: dari sudut pandang operasional, job itu sudah selesai. Barang sampai, customer puas, tim sudah pindah ke job berikutnya. Tidak ada yang merasa ada pekerjaan tertunda. Padahal ada satu invoice yang menganggur menunggu satu angka.

Yang bisa dilakukan

  • Sepakati estimasi biaya di muka dengan vendor tetap, lalu terbitkan invoice berdasarkan estimasi itu dan koreksi di periode berikutnya bila meleset. Ini menggeser risiko selisih kecil untuk menukar percepatan besar.
  • Pisahkan invoice menjadi komponen yang sudah pasti (freight, handling) dan yang menunggu (biaya pelabuhan, storage). Tagih yang pasti lebih dulu.
  • Beri tenggat penagihan ke vendor secara tertulis. Vendor yang menagih terlambat memakai uang Anda tanpa bunga, dan sebagian besar tidak menyadarinya sampai diminta.

Jeda 2: dokumen pendukung yang belum terkumpul

Sebagian besar customer korporat tidak akan memproses invoice tanpa lampiran lengkap: POD bertanda tangan, surat jalan, kadang foto kondisi barang, timbangan, atau berita acara. Kalau satu lampiran kurang, invoice ditolak di tahap penerimaan dokumen, sering tanpa pemberitahuan aktif.

Yang berbahaya dari penolakan jenis ini adalah senyapnya. Invoice tidak dikembalikan; ia hanya tidak pernah masuk antrean pembayaran. Anda baru tahu 45 hari kemudian saat menagih, lalu diberi tahu bahwa dokumennya kurang sejak awal. Hitungan termin pun dimulai ulang dari tanggal invoice diterima lengkap.

Jeda 3: selisih data antara operasional dan finance

Operasional mencatat job di satu tempat, finance menagih dari tempat lain. Di antara keduanya ada proses penyalinan, kadang ekspor Excel, kadang ketik ulang. Setiap penyalinan memasukkan peluang selisih.

Selisihnya biasanya sepele: nomor kontainer beda satu huruf, tanggal muat beda satu hari, nama customer memakai singkatan yang berbeda dari yang terdaftar di sistem mereka. Tapi sepele bagi Anda tidak berarti sepele bagi bagian hutang customer, yang tugasnya justru mencocokkan dokumen. Satu ketidakcocokan, invoice ditahan.

Ini satu-satunya jeda yang murni disebabkan struktur internal, dan karena itu yang paling bisa Anda kendalikan sendiri. Kalau invoice dibuat langsung dari data job yang sama yang dipakai operasional (bukan dari salinannya) kelas kesalahan ini hilang sepenuhnya, bukan berkurang.

Jeda 4: persetujuan internal Anda sendiri

Banyak perusahaan mewajibkan invoice di atas nilai tertentu disetujui manajer sebelum dikirim. Niatnya baik. Praktiknya, invoice menumpuk menunggu seseorang yang sedang di luar kota.

Periksa berapa lama rata-rata invoice menunggu persetujuan di perusahaan Anda. Kalau angkanya di atas dua hari, kontrol itu sedang lebih banyak memakan biaya daripada mencegah kerugian. Solusinya bukan menghapus kontrol, melainkan menaikkan ambang nilainya dan menunjuk pengganti yang jelas.

Jeda 5: siklus pembayaran customer

Yang ini di luar kendali Anda, tapi bisa diantisipasi. Banyak perusahaan besar hanya menjalankan proses pembayaran pada tanggal tertentu, misalnya setiap tanggal 25. Invoice yang masuk tanggal 26 tidak menunggu satu hari; ia menunggu 30 hari.

Ini informasi yang gratis dan hampir selalu bisa didapat cukup dengan bertanya ke bagian hutang mereka. Sekali Anda tahu tanggalnya, tim penagihan bisa bekerja mundur dari situ. Mengirim invoice tiga hari lebih awal bisa berarti pembayaran empat minggu lebih cepat, tanpa negosiasi ulang apa pun.

TahapHari berjalanKumulatif
Job selesai, barang diterima0Hari 0
POD kembali ke kantor7Hari 7
Tagihan vendor terakhir masuk9Hari 16
Invoice disusun & disetujui internal3Hari 19
Invoice dikirim, menunggu siklus bayar customer9Hari 28
Termin 30 hari berjalan30Hari 58
Contoh ilustratif satu job: ke mana 58 hari itu pergi

Perhatikan struktur angkanya. Termin yang tertulis di kontrak hanya menyumbang 30 dari 58 hari. Sisanya (28 hari) terjadi sebelum jam termin mulai berdetak, dan tidak satu pun dari 28 hari itu memerlukan izin customer untuk diperbaiki.

Anda tidak sedang menegosiasikan ulang termin. Anda sedang merebut kembali hari-hari yang hilang sebelum termin dimulai.

Urutan perbaikan yang masuk akal

  1. 1Ukur dulu. Hitung selisih hari job-selesai sampai uang-masuk untuk 50 job terakhir. Tanpa angka ini, semua langkah berikutnya hanya tebakan.
  2. 2Cari tahu tanggal siklus bayar lima customer terbesar Anda. Ini perbaikan termurah yang ada, biayanya lima panggilan telepon.
  3. 3Pecah invoice menjadi komponen pasti dan komponen menunggu, kalau kontraknya memungkinkan.
  4. 4Beri tenggat ke vendor secara tertulis, dan pantau siapa yang paling sering telat menagih.
  5. 5Hilangkan penyalinan data antara operasional dan finance. Ini yang paling besar dampaknya, sekaligus yang paling lama dikerjakan, karena itu ditaruh terakhir, bukan pertama.

Yang tidak akan membantu

  • Menambah orang di tim penagihan. Kalau jeda terjadi karena menunggu data, menambah penagih hanya menambah orang yang menunggu.
  • Memperketat termin di kontrak baru. Termin bukan penyebab; 28 dari 58 hari tadi terjadi di luar termin.
  • Mengirim surat peringatan lebih awal. Ini merusak hubungan komersial untuk memperbaiki gejala, sementara penyebabnya ada di sisi Anda.
  • Denda keterlambatan. Secara hukum sah, secara praktik hampir tidak pernah ditagihkan ke customer yang ingin Anda pertahankan.

Satu-satunya intervensi yang memberi hasil bertahan adalah memperpendek jarak antara peristiwa fisik dan peristiwa keuangannya. Barang diterima adalah peristiwa fisik. Invoice terbit adalah peristiwa keuangan. Semakin dekat keduanya, semakin sedikit tempat bagi uang Anda untuk tersangkut di tengah.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah menagih sebagian invoice diperbolehkan?

Tergantung kontrak. Sebagian kontrak logistik mengizinkan penagihan bertahap atau memisahkan biaya pokok dari biaya at-cost, sebagian mensyaratkan satu invoice per job. Periksa klausulnya; kalau tidak diatur secara eksplisit, ini biasanya bisa disepakati karena customer pun tidak diuntungkan oleh invoice yang datang terlambat dan menumpuk di akhir kuartal.

Bagaimana menghitung DSO yang benar untuk perusahaan logistik?

Rumus DSO standar memakai tanggal invoice, dan untuk logistik itu menyesatkan karena menyembunyikan jeda pra-invoice. Hitung dua angka: DSO standar untuk pembanding industri, dan 'cash cycle' dari tanggal job selesai sampai uang masuk untuk keperluan internal. Selisih keduanya adalah ruang perbaikan yang tidak butuh persetujuan customer.

Vendor kami selalu telat menagih. Apa yang bisa dilakukan?

Masukkan tenggat penagihan ke dalam perjanjian kerja sama, misalnya tagihan harus masuk maksimal 7 hari setelah jasa selesai, lewat dari itu masuk periode penagihan berikutnya. Ini bukan sanksi, hanya kepastian jadwal, dan vendor umumnya menerimanya karena mereka pun jadi punya ritme yang jelas.

Apakah sistem terintegrasi benar-benar memperpendek siklus kas?

Ia menghapus jeda penyalinan data dan jeda pengumpulan dokumen, yang di contoh di atas bernilai sekitar 10 hari. Ia tidak menyentuh siklus pembayaran customer maupun keterlambatan vendor. Wajar berharap perbaikan pada sebagian jeda, bukan seluruhnya, dan vendor yang menjanjikan seluruhnya sebaiknya diminta menjelaskan caranya.

Bacaan Terkait